Analisis Karakteristik Pasien terhadap Tingkat Polifarmasi Peserta Prolanis di Puskesmas Dewantara Aceh Utara

Sarah Rahmayani, Muhammad Husni, Fansury Nasution, Rivhan Fauzan, Andi Saputra, Vera Novalia, Ilfan Aldi Putra Lubis


Abstract


Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) umumnya menjalani terapi jangka panjang yang melibatkan penggunaan berbagai jenis obat, sehingga meningkatkan risiko terjadinya polifarmasi. Polifarmasi dapat meningkatkan risiko interaksi obat, efek samping, ketidakpatuhan pengobatan, serta masalah terkait obat lainnya. Karakteristik pasien, seperti usia dan jumlah diagnosis, diduga berperan dalam terjadinya polifarmasi, namun bukti pada peserta Prolanis di tingkat pelayanan kesehatan primer masih terbatas.Tujuan: Menganalisis hubungan karakteristik pasien terhadap tingkat polifarmasi pada peserta Prolanis di Puskesmas Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 93 peserta Prolanis yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Variabel independen meliputi usia dan jumlah diagnosis, sedangkan variabel dependen adalah tingkat polifarmasi yang dikategorikan menjadi tidak polifarmasi, polifarmasi minor, dan polifarmasi mayor. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Sebagian besar responden berada pada kelompok usia pralansia, memiliki diagnosis tunggal, dan mengalami polifarmasi mayor. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat polifarmasi (p>0,05). Sebaliknya, jumlah diagnosis memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat polifarmasi (p<0,05), di mana pasien dengan jumlah diagnosis yang lebih banyak cenderung mengalami tingkat polifarmasi yang lebih tinggi. Kesimpulan: Usia bukan merupakan faktor yang berhubungan dengan tingkat polifarmasi pada peserta Prolanis di Puskesmas Dewantara. Sebaliknya, jumlah diagnosis berhubungan secara signifikan dengan tingkat polifarmasi. Temuan ini menunjukkan bahwa kompleksitas kondisi klinis pasien lebih berperan dalam terjadinya polifarmasi dibandingkan faktor usia. Oleh karena itu, evaluasi penggunaan obat secara berkala perlu diprioritaskan pada pasien dengan lebih dari satu diagnosis untuk mendukung penggunaan obat yang rasional dan meningkatkan mutu pelayanan Prolanis.
Kata kunci: Prolanis, polifarmasi, penyakit kronis, jumlah diagnosis, usia, pelayanan kesehatan primer.

Full Text:

PDF

References


Ngowi J, Munishi C, Ndumwa H, et al. Efforts to address the burden of non-communicable diseases need local evidence and shared lessons from high-burden countries. Ann Glob Health. 2023;89(1):87. doi:10.5334/aogh.4265.

Vitorino LM, Mendes JHL, Santos GS, et al. Prevalence of polypharmacy of older people in a large Brazilian urban center and its associated factors. Int J Environ Res Public Health. 2023;20(10):5903. doi:10.3390/ijerph20105903.

Nasab NF, Rezaeian S, Ezadi S, et al. Prevalence and determinants of polypharmacy: a cross-sectional study among elderly patients with cardiovascular diseases in outpatient clinics. Scientifica (Cairo). 2025;2025 ID. doi:10.1155/2025/xxxxxxxx.

Febriyanti RM, Irawan AA, Anggriani N, et al. Challenges in implementing Indonesia's community-based chronic disease management program (Prolanis): a scoping review. AIMS Public Health. 2025;12(3):1744-1763. doi:10.3934/publichealth.2025093.

Lisni I, Lestari K, Andalusia LR. Polypharmacy in type 2 diabetes patients of the PROLANIS program in Indonesia: identification of potential drug-drug interaction. Jordan J Pharm Sci. 2025. doi:10.35516/jjps.v18i1.1818.

Delara M, Murray L, Jafari B, et al. Prevalence and factors associated with polypharmacy: a systematic review and meta-analysis. BMC Geriatr. 2022;22:601. doi:10.1186/s12877-022-03279-x.

Molino CGRC, Chocano-Bedoya P, Sadlon A, et al. Prevalence of polypharmacy in community-dwelling older adults from seven centres in five European countries: a cross-sectional study of DO-HEALTH. BMJ Open. 2022;12. doi:10.1136/bmjopen-2021-051881.

Jerjes W, Majeed A. Polypharmacy as a chronic condition: a diagnostic mindset for safer and smarter care. J Clin Med. 2025;14. doi:10.3390/jcmxxxxxxxx.

Purnamasari D. The emergence of non-communicable disease in Indonesia. Acta Med Indones. 2018;50(4):273-274.

Yuliarni I, Komara E, Handayani N. Evaluasi manajemen Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) dalam meningkatkan kualitas pelayanan BPJS Kesehatan di Puskesmas Singgani Kota Palu. ManBiz J Manag Bus. 2025;4(1):1-12.

Rachmawati S, Prihhastuti-Puspitasari H, Zairina E. The implementation of a chronic disease management program (Prolanis) in Indonesia: a literature review. J Basic Clin Physiol Pharmacol. 2019;30(6). doi:10.1515/jbcpp-2019-0355.

Matthias A, Fernando G, Somathilake BGK, et al. Predictors and patterns of polypharmacy in chronic diseases in a middle-income country. Int J Physiol Pathophysiol Pharmacol. 2021;13(6):234-242.

Johansson KS, Jimenez-Solem E, Petersen T, et al. Increasing medication use and polypharmacy in type 2 diabetes: the Danish experience from 2000 to 2020. Diabetes Care. 2024;47(7):1184-1192. doi:10

Alkaff F, Illavi F, Salamah S, et al. The impact of the Indonesian Chronic Disease Management Program (PROLANIS) on metabolic control and renal function of type 2 diabetes mellitus patients in primary care setting. J Prim Care Community Health. 2021;12:2150132720984409. doi:10.1177/2150132720984409.

Aubert CE, Streit S, da Costa BR, et al. Polypharmacy and specific comorbidities in university primary care settings. Eur J Intern Med. 2016;35:35-42. doi:10.1016/j.ejim.2016.05.022.

Wang J, Feng Z, Dong Z, et al. Does having a usual primary care provider reduce polypharmacy behaviors of patients with chronic disease? A retrospective study in Hubei Province, China. Front Pharmacol. 2022;12:794863. doi:10.3389/fphar.2021.794863.

Kim S, Lee H, Park J, et al. Global and regional prevalence of polypharmacy and related factors, 1997–2022: an umbrella review. Arch Gerontol Geriatr. 2024;121:105394. doi:10.1016/j.archger.2024.105394.




DOI: https://doi.org/10.30743/best.v9i2.14200

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.