EKSISTENSI PEREMPUAN DALAM NOVEL CERPEN “KETIKA MALAM MERAYAP LEBIH DALAM” KARYA WAHYU WIJI ASTUTI

Muharrina Harahap, Ita Khairani, hera Chairunisa

Abstract


Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perempuan di dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Hal ini didasari oleh masalah bahwa perempuan selalu dijadikan sebagai objek untuk pemuas nafsu laki-laki. Perempuan dikonstruksi untuk menjadi apa yang diinginkan oleh masyarakat. Padahal, perempuan memiliki hak atas dirinya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Perempuan ‘ada’ karena kemauan dirinya sendiri. Akan tetapi, perempuan dipaksa untuk mengikuti tradisi yang telah dikonstruksi untuk dirinya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang merujuk kepada analisis isi, yaitu menggunakan kajian eksistensialisme Sartre. Cerpen “Ketika Malam Merayap Lebih Dalam” karya Wahyu Wiji Astuti menunjukkan bahwa tokoh “aku” melakukan sesuatu atas kemauan dirinya, yaitu menjadi pelacur, walaupun hal ini didasari oleh kebutuhan ekonomi. Keputusannya untuk menjadi pelacur menunjukkan bahwa ia tidak peduli dengan konstruksi dan budaya yang dibentuk oleh masyarakat bahwa pelacur adalah pekerjaan yang hina.

Kata Kunci: Eksistensialisme Sartre, Perempuan, Konstruksi

                      Budaya Masyarakat

Abstract. This study aims to determine the role of women in social, cultural, political, and economic life. This is based on the problem that women are always used as objects to satisfy male lust. Women are constructed to be what society wants them to be. In fact, women have the right to do what they want. Women 'exist' of their own accord. However, women are forced to follow the traditions that have been constructed for themselves. This study uses a descriptive qualitative research method that refers to content analysis, which uses the study of Sartre's existentialism. The short story “Ketika Malam Merayap Lebih Dalam” by Wahyu Wiji Astuti shows that the character “I” does something of his own volition, namely becoming a prostitute, even though this is based on economic needs. Her decision to become a prostitute shows that she does not care about the construction and culture formed by society that prostitution is a despicable job.

Keywords: Sartre's existentialism, Women, Cultural

                   Construction of Society


Full Text:

PDF

References


Astuti, W. W. (2012). Ketika Malam Merayap Lebih Dalam: Kumpulan Cerpen. Tiga Maha.

Faruk. (2012). Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Pustaka Pelajar.

Sartre, J. P. (2002). Eksistensialisme dan Humanisme. Pustaka Pelajar.

Udasmoro, W. (2012). Buku Ajar Pengkajian Sastra: Bagaimana Meneliit Sastra? Mencermati Metodologi Dasar dalam Penelitian Sastra. Program Studi Sastra Perancis FIB UGM.

Watkins, S. A., Rodrigues, M., & Rueda, M. (2007). Feminisme untuk Pemula. Resist Book.

Wibowo, A. S. (2011). Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Kanisius.




DOI: https://doi.org/10.30743/bahastra.v5i2.3889

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




 

Bahastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP - Universitas Islam Sumatera Utara
Kampus Induk UISU Jl. Sisingamangaraja XII Teladan, Medan
Email: prodipbsi@fkip.uisu.ac.id | bahastra@fkip.uisu.ac.id 

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.